Negeri Ads

Senin, 11 Januari 2010

Kriminal, dari manakah engkau?

Sifat jahat tidak akan habis, seiring dengan setan yang tidak akan mati hingga akhir zaman nanti. Akan tetapi, saat ini setan-setan dengan mudahnya hinggap kedalam hati manusia, mempengaruhi dan mengerogoti mereka hingga terkikislah rasa kepedulian dan ketaatan pada garis-garis Tuhan.

Tapi yang perlu diingat jangan terus menerus menyalahkan setan, memang sih setan itu selalu jahat. Namun sebenarnya yang lebih dan mungkin sangat patut disalahkan adalah dari manusia itu sendiri. Ingat kata bang Napi, kejahatan tidak hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan.

Ya, memang yang pertama adalah adanya niat dari orang itu sendiri untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi, jelas sebelum ada niat ada beberapa penyebab hingga mengakibatkan orang berani mencetuskan niat untuk melakukan kejahatan. Ini ada beberapa alasan mengapa bisa muncul niat itu.

Yang pertama adalah tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah. Dalam teori yang pernah dikatakan seorang dosen ilmu social dari Universitas Muhammadiyah Malang, Reinekso, kejahatan akan terus searah dengan tingkat kesejahteraan. Semakin rendah tingkat kesejahteraan seseorang maka akan semakin tinggi potensi terjadinya tindak kejahatan.

Kondisi itu juga yang sampai saat ini masih terus berlanjut, ketika masyarakat susah mendapatkan pekerjaan, sementara mereka dituntut untuk terus memenuh kebutuhan perut. Tidak hanya untuk perutnya sendiri, tapi juga untuk mengisi perut istri dan anak-anak mereka. Kekalutan pikiran akan cepat terpenuhinya kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan tersebut juga bisa memunculkan pemikiran cepat untuk mendapatkan uang dengan cara cepat juga, salah satunya melakukan kejahatan. Akibatnya terjadilah jambret, copet, pencurian dimana-mana.

Ya itu adalah kebutuhan perut, namun saat ini dengan semakin tingginya ilmu teknologi maka kebutuhan tidak hanya kebutuhan perut saja, masyarakat saat ini juga butuh barang-barang penunjang hidup, seperti televisi dan telepon seluler. Memang kebutuhan tersebut bisa dihindarkan sebab ketika tidak memiliki barang-barang itu mereka masih tetap bisa hidup. akan tetapi yang jadi permasalahan saat ini, masyarakat terkesan gengsi ketika tidak ada ponsel dalam gengamannya. “Hari gini gak punya HP, apa kata dunia,” mungkin seperti itulah kata kata yang bisa terlontar pada orang yang tidak punya ponsel.

Kemudian timbullah keinginan untuk punya Ponsel, meski isi dompet tak mampu menjangkaunya. Dari sinilah ada kemungkinan seseorang itu melakukan tindak kejahatan untuk bisa mendapatkannya. Jangan heran jika ada anak anak yang nekat mencuri atau menjambret ponsel, apalagi orang dewasa. Ada kala mereka ingin memiliki ponsel tersebut, tapi ada juga yang melakukannya untuk dijual.

Tragisnya lagi, jika keinginan untuk mendapatkan barang barang itu sudah dibubuhi dengan rasa gengsi. Tak cukup hanya sekedar punya ponsel, jika ponselnya biasa biasa saja atau model lama, mereka takut dibilah “ihh HPnya jadul bangeeet atau iihh HPnya ketinggalan jaman tuh,”. Sehingga ponsel tidak lagi sekedar untuk menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi seperti menelpon dan SMS saja, tapi juga untuk menuruti gengsi.

Ini terjadi pada sebagian anak muda, mereka merasa bangga jika punya ponsel modis, mahal dan yang lagi ngetren, sehingga tidak dibilang ketinggalan jaman. Lagi lagi yang jadi permasalahan, rasa gensi itu tak terkontrol lagi sedangkan tidak ada uang untuk digunakan. Lagi lagi yang jadi jalan pintas adalah bertindak jahat atau menjadi seorang kriminil. Mereka bisa merampas, menjambret, mencuri dan yang lain sebagainya. Sampai disini dulu, lebih lanjut, tunggu posting berikutnya…..

Jumat, 08 Januari 2010

Aku

Aku adalah orang biasa, berasal dari sebuah desa di sisi utara Kabupaten Lamongan. Sedangagung itulah nama desa dimana aku dilahirkan pada 1980 lalu. Di Desa yang ada dibawah Kecamatan Paciran inilah aku digembleng, didik dan dibesarkan. Meski saat ini, enam hari dalam satu minggu aku habiskan di kota, namun sekali dalam seminggu aku tetap kembali ke desaku. Oia, mungkin karena berasal dari desa inilah, aku orangnya dibilang nerimo, tapi itu kata orang ya, lain orang kan kadang lain penilaian. Pendidikanku juga tidak begitu istimewa, awalnya aku berangkat dari TK, terus dapat izin masuk ke MIM, itu Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di desaku. Lha setelah itu aku numpang belajar di SMP Muhammadiyah 12 juga di desaku, tapi disini aku juga nitip badan untuk belar di MTs Al Ishlah. Lulus dari kedua lembaga pendidikan itu aku diberi kesempatan belajar di MA (Madrasah Aliyah) Al Ishlah, dibawah naungan Pondok Pesantren Al Ishlah. Aku beruntung sekali, bisa belajar di tempat tempat itu, sebab aku merasa mendapatkan beribu ilmu, pengalaman dan bahkan teman-teman juga banyak. Meski sampai saat itu aku masih tetap berkutat di desaku saja, tapi teman teman sekolahku banyak yang dari luar desa, ada yang dari kota seperti Surabaya dan kota-kota yang lain, bahkan ada juga yang luar Jawa. Alhamdulillah, setelah dari MA aku masih diberi kesempatan untuk belajar di Perguruan Tinggi, akhirnya aku dapat gelar sebagai sarjana pengajar atau pendidik, he he he. Uniknya sekarang ini aku malah tidak jadi pendidik atau yang lebih dikenal dengan nama guru, malah aku menjadi seorang kuli keyboard, sekali lagi aku cuapkan Alhamdulillah.....